Muslim Produktif — Bagian 1
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, dilakukan dengan itqan (tepat, terarah, jelas, tuntas). (HR. Thabrani).
Sekarang ini saya sedang membaca buku berjudul The Productive Muslim karya Mohammed Faris. Menurut saya, semua muslim perlu membaca buku ini. Buku ini menjelaskan relevansi Islam di zaman pascamodern, cara memaksimalkan potensi, meraih kesuksesan dunia dan akhirat, serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam keseharian. Jadi saya akan menerjemahkan, merangkum, dan menambahkan sebagian isi buku ke seri tulisan ini.
إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Surat Ar-Ra’d, ayat 11)
Apa itu Produktivitas?
Produktivitas adalah Fokus × Energi × Waktu (untuk tujuan yang bermanfaat). Jika fokus, energi, dan waktu kita dihabiskan untuk hal yang tidak bermanfaat, maka itu tidak dapat disebut produktif.
- Produktif beda dengan sibuk. Kita bisa saja sibuk seharian tetapi tetap tidak produktif. Contohnya, buang-buang waktu dalam meeting yang tidak memberi nilai tambah.
- Produktif itu tidak membosankan. Produktif bukan berarti harus menolak hiburan. Produktif berarti membuat pilihan yang tepat, tahu kapan harus bekerja keras, beristirahat, dan bersenang-senang.
- Kita tidak bisa selalu produktif. Konsisten menjaga produktivitas itu sulit. Ada hari ketika kita efektif, ada hari ketika tidak. Jangan khawatir, kita bukan robot. Fokuslah pada cara menjaga level produktivitas secara berkelanjutan.
Paradigma Islam tentang Produktivitas
Islam membimbing kita meraih ketenangan dan kemakmuran hidup melalui sikap bertanggung jawab dan produktif. Berikut paradigma Islam tentang produktivitas.
Produktivitas yang didorong oleh tujuan
Jika kita memahami tujuan dan makna hidup, produktivitas akan meningkat secara signifikan.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Surat Az-Zariyat, ayat 56)
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Surat Al-Baqarah, ayat 30)
Menurut dua ayat diatas, tujuan kita di dunia ini ada dua:
- Menjadi Hamba Allah
Menerima bahwa kita hamba Allah berarti semua ucapan dan tindakan harus selaras dengan apa yang Allah cintai. Hidup kita akan lebih terarah, tidak terjebak dalam rat race. Kita menjalani hidup sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Jika tidak, kita mudah menjadi hamba harta, jabatan, atau hal duniawi lainnya.
- Menjadi Khalifah di Bumi
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. (HR. Bukhari: 4789)
Banyak yang salah paham dengan makna tanggung jawab di sini. Kita sering mengira tanggung jawab berarti sekadar menjalankan tugas. Padahal, kata pemimpin di hadits ini menggunakan istilah “Roi” yang berarti penggembala.
Penggembala bukan hanya menjaga kawanan domba, tetapi juga memelihara, memastikan mereka berkembang, mencari padang rumput terbaik, dan merawat yang sakit. Artinya, peran pemimpin itu aktif dan proaktif. Kita tidak cukup menjalankan tugas, namun harus memastikan segala hal tumbuh dan menjadi lebih baik.
Contoh sederhana: orang tua mengira mengirim anak ke sekolah sudah cukup. Padahal, menjadi “Roi” berarti aktif memantau pendidikan anak—menanyakan apa yang dipelajari, tugas yang harus dikerjakan, dan seterusnya. Tugas kita adalah menjadi khalifah yang menjalankan peran “Roi” di bumi.
Produktivitas yang didorong oleh nilai
Nilai-nilai seperti amanah (dapat dipercaya), shiddiq (benar), ihsan (melakukan sebaik-baiknya), adil, rahmah (belas kasih), dan rifqu (lemah lembut) membantu kita memegang kompas moral dan menjaga martabat manusia. Inilah nilai yang wajib kita pegang.
Ada cerita tentang Khalifah Umar bin Abdul-Aziz. Ketika tamu datang membahas kepentingan Islam, beliau menyalakan lampu ruangannya. Namun saat pembicaraan berubah menjadi urusan personal, beliau mematikannya. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa lampu itu dibeli dari treasury Islam, sehingga hanya layak digunakan untuk urusan umat.
Selain itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan empat pertanyaan yang akan kita hadapi di Hari Penimbangan:
- Tentang ilmu pengetahuan, dan amal apa yang diperbuat darinya
- Tentang umur, dan bagaimana dihabiskan
- Tentang kehidupan, dan bagaimana dijalani
- Tentang harta: bagaimana cara mendapatkannya dan menggunakannya
Empat hal ini terkait langsung dengan produktivitas. Apakah kita memanfaatkan ilmu secara produktif? Apakah usia kita diisi dengan kebaikan atau habis dalam hal sia-sia?
Jika kita fokus pada hari akhirat, kita terdorong untuk menjaga keseimbangan peran—bukan hanya sebagai pengusaha atau karyawan produktif, tetapi juga sebagai anak, orang tua, suami atau istri, guru, tetangga, warga, dan muslim produktif.